Pengrajin Sapu Tarikolot dan Sarewu Butuh Dukungan Modal dan Pemasaran

 

Sejak puluhan tahun lalu, tepatnya tahun 1970-an, dua desa di Kecamatan Pancalang Kabupaten Kuningan yaitu Desa Sarewu dan Desa Tarikolot dikenal sebagai desa yang memproduksi sejumlah perlengkapan kebutuhan rumah tangga.

Diantaranya sapu ijuk, sapu bambu, sapu lidi, sapu tepes, keset tepes, keset kain, pembersih botol, sikat pembersih WC, sikat cuci, dan sejumlah perlengkapan rumah tangga lainnya.

Saat melakukan kunjungan ke Desa Sarewu dan Tarikolot untuk melihat langsung dampak Pandemi Covid-19 terhadap UMKM di Kabupaten Kuningan, Wakil Bupati Kuningan, M. Ridho Suganda menemukan beberapa kendala yang dihadapi para pengrajin, diantaranya adalah masalah bahan baku dan permodalan.

Karena sebagian besar warga masih pengusaha kecil, maka dari sisi modal pun masih ada kendala.

Saat mendampingi kunjungan Wakil Bupati tersebut, Kepala Desa Tarikolot Damayanto menyampaikan bahwa permodalan dan pemasaran adalah dua hal yang utama dan masih membutuhkan dukungan dari semua pihak khususnya pemerintah daerah.

Terkait Pemasaran produk alat kebersihan dari kedua desa tersebut, Kabid Pemasaran Disporapar Kabupaten Kuningan, Teti Sukmawati menyampaikan sudah menjalin komunikasi dengan kepala desa Tarikolot dan Sarewu dan pihaknya (Disporapar) akan mencoba membantu untuk memasarkan produk-produk tersebut.

“Khususnya dari Disporapar, kita akan coba bantu dari sisi pemasaran, kita sudah melakukan koordinasi dengan Disdikbud untuk mensosialisasikan ke sekolah-sekolah agar menggunakan alat kebersihan yang berasal dari desa Sarewu dan Tarikolot, kita harus bisa berdayakan produk lokal Kuningan,” Jelas Teti

Sementara itu, Alvin Fitranda Kasie Usaha Industri Sandang, Kulit, Bahan Bangunan dan Kerajinan DiskopUKMdagperin Kabupaten Kuningan yang juga ikut mendampingi dalam kunjungan Wakil Bupati ini menjelaskan bahwa pihaknya akan fokus untuk mencoba membantu dari sisi peralatan produksi.

“Memang kita fokus ke proses produksi jadi di mesin peralatan, mungkin kita tidak menutup kemungkinan membantu dalam hal stimulasi bahan baku juga, kita memastikan kondisifitas dari pihak desa ketika kita menghandel bahan baku misalnya melalui Bumdes, kalau itu mau diambil alih oleh pemerintah harus siap dengan kontinyuitas bahan baku dan pemasaran,” pungkasnya.(Bambang)

Sumber Berita : FajarCirebon